Kamga Mo-nolog

@kamga_mo

Kamga Mo-nolog

second heading

#EMMAS BACK STORY #MY BODY IS NEVER READY #BRING IT ON
Zoom Info

#EMMAS BACK STORY #MY BODY IS NEVER READY #BRING IT ON
Zoom Info

#EMMAS BACK STORY #MY BODY IS NEVER READY #BRING IT ON
Zoom Info

#EMMAS BACK STORY #MY BODY IS NEVER READY #BRING IT ON
Zoom Info

#EMMAS BACK STORY #MY BODY IS NEVER READY #BRING IT ON

(Source: jennifermorrison)

musikdekat:

Photo Shoot with Hello Indonesia Magazine. Kamga is rocking his sakit leher pose.

musikdekat:

Photo Shoot with Hello Indonesia Magazine. Kamga is rocking his sakit leher pose.

musikdekat:

Watch “Dekat - Lahir Kembali” on YouTube - Dekat - Lahir Kembali: http://youtu.be/9RMHGsE3BOU

Apa Kabar?

Udah lama gak nambler. Apa kabarnya? Masih ada orangnya gak sih? Kalau masih ada syukur, kalau gak ada juga gak apa apa, toh judulnya Kamga Mo-Nolog.

Posting terakhir gw di sini muram bgt. Wajar sih, banyak banget yang terjadi dalam hidup gw dalam lima bulan terakhir career wise. Tangga sudah gak ada, atau tidur lebih tepatnya. Sejujurnya gw sendiri juga gak tau tepatnya yang mana, tapi kita semua setuju kalau harapan selalu nyaman untuk di dengar, seberapa palsu nya mereka.

Dulu menulis tumblr itu layaknya obat buat gw. Tumblr adalah pelarian dari tulisan tulisan lirik yang tampaknya tidak etis untuk dimusikkan. Selama ini gw berpikir menulis unek unek dan menulis lirik adalah dua hal yang berbeda. Sembila tahun gw berlatih untuk merangkai cerita cerita cinta yang kiranya bisa resonance dengan cerita banyak orang. Sampai akhirnya gw sadar, tidak ada seorangpun yang ingin mendengar cerita nya sendiri dalam lagu. Kenapa Who You Love indah banget? Karena kita tahu itu cerita John dan Katy pada saat itu. Kenapa Anang sempat terkenal banget karena lagu yang gw lupa judulnya itu? Karena kita tahu itu cerita tentang Krisdayanti. Dan kalaupun kita kebetulan tidak tahu, infotainment akan terus terusan mengingatkan kita latar belakang dari lagu tersebut. Gw gak perlu menjelaskan soal Someone Like You kan?

Yang membuat seorang penulis menarik adalah seberapa berani nya dia membuka dirinya tanpa filter dalam karyanya, dan itu yang berusaha gw, Tata, dan Chev tuliskan di album Dekat ini. Semuanya kisah sendiri, dan kadang tidak nyaman untuk didengarkan di momen momen yang tidak tepat. But thats what makes art interesting right? To know that they are alive

Mungkin mulai sekarang isi tumblr gw akan melulu soal Dekat. Fase nulis ngasal gw udah beres, gw mau curhat terus sekarang. Kalau tidak suka gak apa apa, semoga kita bs bertemu di fase berikutnya.

Ini link single pertama Dekat - Lahir Kembali : http://m.youtube.com/watch?v=9RMHGsE3BOU

Kami tahu itu bukan lagu paling enak yang pernah diciptakan, tapi tidak ada cara yang lebih tepat untuk membuka diri kita selain membeberkan alasan mengapa Tangga bubar bukan?

Terakhir dari gw, it takes guts to curhat. Jadi buat semua orang di sekitar lo yang bilang lo cupu karena curhat, tonjok.

Monolog : Tangga dan Masa Depan

Gw sudah berjanji untuk menjelaskan, apa yang terjadi dengan Tangga sebulan belakangan ini. Mengapa begitu banyak berita tak menyenangkan soal kami. Mengapa dua posting gw sebelumnya bernada sumbang. Mengapa description di soundcloud Tak Kemana Mana kami seolah olah bernada subliminal. Mengapa tercium bau bau perpisahan. Begitu banyak mengapa hingga seolah kurang aksara untuk menjelaskan. Sebenarnya gw lebih tertarik menjelaskan ini secara lisan. Tapi yasudahlah.

Semua berawal dari sebuah harapan berjudul Tak Kemana Mana. Tangga mulai bersiap untuk mencicil lagu untuk album keempat. Mood berkarya sedang baik, dan percayalah ini jarang terjadi. Bila kamu punya band yang tidak memegang final say dalam pemilihan lagu maka kamu akan mengerti. Lagu ini tercipta begitu cepat, cuma makan waktu sekitar tiga jam. Semua terasa begitu mudah. Lirik lagu ini pun datang ke kepala gw tidak lama, mungkin memang karena ide cerita ini sudah mengendap bertahun tahun yang alasan mengendapnya tidak akan gw ceritakan disini. Harry Budiman, music producer kami datang dengan progresi chord yang kami langsung sukai, dan terakhir gw ingat, semua pulang dengan senyum tersungging di wajah.

Ini adalah momen yang besar bagi kami karena, terlepas dari rasa syukur atas kesuksesan Utuh dan Cinta tak Mungkin Berhenti, dua lagu tersebut bukanlah lagu yang kami sukai. Mungkin di awal karir menyanyikan lagu seperti ini bukanlah masalah. Tetapi kami makin tua. Euforia senang terkenal, dielu elukan, sudah lewat. Buat gw pribadi, gw cuma ingin connect dengan apa yang gw nyanyikan. Gw ingin menceritakan cerita yang gw pedulikan, atau setidaknya, bisa gw bayangkan. Lama kami menunggu saat itu tiba, hingga akhirnya muncul Tak Kemana Mana.

Ternyata senyum cuma bertahan sehari, karena proses Tak Kemana Mana untuk bisa ‘dihidangkan’ ke meja label amat sulit. Lagu ini sudah selesai hampir dua bulan lalu, tapi percaya atau tidak, bahkan approval akan lagu ini hingga hari ini pun masih belum kami terima. Itulah alasan mengapa lagu ini baru bisa lari ke dapur Soundcloud.

Merasa patah arang, kami meminta bantuan management kami untuk menolong lagu ini sampai ke meja redaksi. Namun terlepas dari segala hal yang telah Tangga dan management bangun bertahun tahun ini, kami merasa bahwa Tak Kemana Mana bertepuk sebelah tangan. Hanya Tangga yang memiliki keyakinan akan lagu ini, tidak yang lain.

Mudah rasanya menerima kekecewaan saat tidak berharap. Namun saat harapan bertemu muka dengan kekecewaan, rasanya amat pahit. Di saat itulah kami sadar, mungkin saking terlalu lamanya kami membiarkan orang2 yang bekerja di sekitar kami mengatur hidup kami, adalah mustahil bagi kami untuk mendapat hak suara kembali. Ketika kami mencoba melihat kebelakang akan 9 tahun karir yang sudah dibangun bersama, kami tak kenal siapa kami. Tangga adalah hasil manufaktur yang cukup baik, namun apakah jati diri kami tergambar dengan jelas di nama tersebut? Jawabannya tidak.

Tak Kemana Mana adalah simbol. Simbol dari Tangga yang siap untuk dewasa. Siap untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Apakah jalannya akan semakin mulus? Tentu tidak. Malah mungkin akan lebih parah. Tapi sekali lagi, selama secercah harapan masih ada maka akan selalu ada alasan untuk menyunggingkan senyum ini di wajah.

Nerra menikah bulan Agustus dan pindah ke Surabaya untuk menjalani mimpinya yang lain. Berumah tangga. Kami bertiga tetap bermusik bersama, malahan kami sudah mulai workshop untuk album kami nantinya di bulan yang sama. Apakah namanya masih Tangga? Kemungkinan besar tidak. Tangga akan kami ‘tidurkan’ di bulan Agustus, dan belum tahu kapan akan terbangun dari hibernasinya.

Kami berpisah dengan management untuk memiliki keleluasaan menentukan nasib Tangga. Kami masih berusaha untuk berpisah dengan label untuk bisa menentukan masa depan dari karir musik kami bertiga. Mungkin memang terlambat. Umur gw 27tahun, bukan umur yang baik untuk memulai karir kembali dengan nama baru. Namun yang kami kejar cuma rasa bahagia. Sukses tak sukses bukan soal utama.

Baru sore tadi kami berbicara dengan pihak label. Mereka bilang Tak Kemana Mana not good enough for a single. Mungkin mereka benar. Mungkin kami salah. Namun apabila salah rasanya sebahagia ini, kami bisa terima.

Monolog : Semoga

Mereka bukan berasal dari temen ngeband atau sahabat SMA. Mereka empat anak yang dikumpulkan oleh seorang visioner yang pernah menuai kesuksesan dari kelompok vokal sebelumnya dan berniat untuk menorehkan kesuksesan baru lewat anak anak temuannya. Salah satu dari mereka tidak bisa bernyanyi, belajar menjadi rapper atas saran dari sang visioner dan memulai karir musiknya dengan itu.

Sepuluh tahun band ini berjalan. Manis pahit karir berdatangan silih berganti, hingga pada suatu hari hati mereka berhenti merasakan manis. Berhenti. Begitu saja. Awalnya mereka tidak begitu memahami mengapa manis tak kunjung datang. Mereka pikir karir mereka telah tamat. Cuma bisa sampai disini saja. Mereka mulai menyalahkan sekitar. Menyalahkan satu sama lain, menyalahkan rekan mereka bekerja, menyalahkan dunia, menyalahkan pasar, menyalahkan Tuhan. Mereka terlalu sibuk terus mencari kambing hitam hingga melupakan masalah yang sesungguhnya. Mereka bukan pengejar karir, tetapi hanya empat anak yang begitu suka bernyanyi dan bermain musik. Dan itulah alasan dari hilangnya manis dari lidah hati mereka. Alasannya adalah, band ini tidak pernah menjadi milik mereka. 

Sepuluh tahun berjalan dan mereka bahkan masih belum memiliki hak untuk memilih lagu apa yang akan diciptakan. Hak itu seakan ada, tetapi tidak pernah diserahkan. Pilihan tidak pernah ada di tangan mereka. Lagu lagu yang dijagokan bukanlah lagu yang mereka jagokan, dan tak usahlah bicara soal jagokan, sukai pun tidak. Mereka harus menatap susunan lagu dengan wajah muram di atas panggung sambil berkata dalam hati

"Kenapa lagu ini?"

Jangankan memilih jagoan lagu, bahkan menentukan pakaian pun mereka tidak memiliki andil. Layaknya boneka yang dimainkan sang visioner, mereka hanya bisa tersenyum pahit memandang diri mereka sendiri di depan kaca, sambil berkata dalam hati

"Ini bukan saya"

Anggota termuda mereka berusia 26. Tertua berusia 30. Karir mereka telah lewat. Mereka tidak bisa lagi menjadi fenomena, sebuah kenyataan yang sudah bisa mereka terima. Namun pertanyaan sebenarnya yang masih mereka pikirkan jawabannya adalah, apakah mereka rela mengakhiri karir mereka seperti ini? 

Keberanian seakan lari dari hati mereka selama ini, dan mendadak kembali seminggu yang lalu. Mereka tidak ingin berakhir seperti ini. Berkarya layaknya zombie. Bila memang harus mati, matilah. Mungkin memang lebih baik mati dengan perlawanan daripada harus hidup dengan pasrah

Besok mereka akan memperjuangkan hak mereka untuk berkarya sesuka hati. Mungkin mereka akan bubar besok. Mungkin mereka akan mati besok. Mungkin nama band ini takkan ada lagi. Tapi mungkin juga, di balik apapun yang terjadi di esok hari mereka, secercah harapan selalu ada. 

semoga.

Monolog : Bad day(s)

Twitter mulai gak seru sekarang. Bukan salah timeline gw yang walaupun sekarang isinya retweetan saipul jamil semua, tapi yang gw follow selain dia tetap nulisnya seru. Kenapa gw masih follow bang ipul? Gak tau, ini semacam love hate relationship. Dibaca bikin enek, gak dibaca takut kelewat. Terus kenapa twitter mulai gak seru kam? Karena gw gak tau mau nulis apa setiap buka. Hidup gw lagi basi, gak ada yang bisa diceritain.

Gw lagi fokus belajar bikin lagu dan musik. Ini sudah tahun ke sebelas gw ada di industri musik dan akhirnya panggilan untuk belajar music production pun tiba. Telat sih. Tapi ya daripada nggak sama sekali kan ya. Gw udah mulai takut sama karir Tangga gw yang sudah mulai gak jelas jadwal manggungnya. Kita lagi bikin album yang so far lagu lagunya kita suka semua. Kalo ini gak laku juga sih ya bubar aja lah ya. Bosen juga nungguin manggung yang gak kunjung datang

Gw suka banget nulis lirik. Sekarang malah punya hobi baru, bukan nulis lirik tapi mengucap lirik. Jadi bikin lirik tanpa ditulis gitulah. Hasilnya sih masih sampah, tapi fun! You should try it. Anyway, nulis lagi agak susah karna gw lagi kena satu masalah. Masalahnya adalah : it seems like everyday is a bad day to me.

Kenapa? Gw juga gak tau. Mungkin karna lagi gak manggung lama. Cara nyanyi aja udah lupa. Perasaan ada di panggung juga udah lupa. Jangan jangan kalau ada manggung nanti gw panas dingin kayak baru awal mau naik lagi. Mungkin juga karna gw lagi miskin. Bawaannya bete tiap liat saldo atm. Kemarin gw ngantri atm di belakang pekerja Farmers Market (dia pake seragam jadi gw tau) trus gak sengaja gw liat jumlah saldonya. Saldonya lebih banyak dari gw. Apa kerja di sana aja skarang gw?

Yah akumulasi dari fase karir gak stabil in mungkin yang buat hari hari gw terasa nyampah. Lemah lesu dan sering bete. Terus kenapa gw nulis cerita ini yang malah bikin gw keliatan kayak orang crying for help? Karna gw baru nemu solusinya dan siapa tau ada yang lagi ngerasain hal sama dan lagi cari obatnya. Obatnya adalah..

Gw gak tau. Shit ya.

Well, menurut gw ini adalah fase hidup yang pasti akan dialami oleh semua orang. Fase dimana kita merasa gagal mencapai ekspektasi yang kita miliki atas diri kita sendiri. Fase dimana kita 5 tahun lalu akan menunduk lesu bila melihat dimana kita sekarang.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk lewatin fase ini? Gw gak tahu. Tapi gw sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk merenungi nasib sampai diam sudah tidak bisa lagi jadi opsi. Pantat sudah komplen dipakai duduk terus.

Im gonna push thru these mess and make it. Hidup katanya seperti roda. Sedang dibawah berarti sudah cukup lama rasakan atas. Mungkin ini saatnya melihat dunia baru.

Untuk yang lagi ada di posisi gw sekarang, its good to know that even a celebrity got the same problem right? :)

Monolog : Same Love

Air mata tidak pernah berbohong. Bahkan untuk seorang aktor kelas Hollywood yang bisa menangis on cue pun, dia harus membawa alam bawah sadar nya ke sebuah perjalanan memori yang pernah membuatnya menitikkan air mata. Kita bisa menghalangi nya untuk tidak menetes, tetapi rasa panas dibelakang mata saat dia mendadak datang adalah diluar dari kendali manusia. Air mata adalah sedikit dari kejujuran yang masih tersisa dari hidup yang kita sama sama habiskan untuk berpura pura.

Gw sering banget nangis nonton film. Cengeng. Nonton Lego Movie aja berkaca kaca. Mungkin karena gw memang cengeng, atau mungkin karena gw menghabiskan menit demi menit hidup gw berusaha untuk menjadi seseorang yang diinginkan, sehingga sulit bagi gw untuk merasakan sesuatu di kehidupan sehari hari. Segala outlet yang bisa gw gunakan untuk berkomunikasi dengan perasaan akan gw maksimalkan sebaik baiknya. Terdengar keren kalau dijabarkan seperti ini, jadi anggap saja gw nangis karena cengeng ya.

Gw, seperti kebanyakan orang, nonton Grammy. Best performance of the night menurut gw adalah Macklemore & Ryan Lewis yang membawakan lagu same love sambil menikahkan puluhan pasangan, dari yang straight hingga gay. The whole performance was so beautiful i started crying. Gw gak tau alasannya kenapa. Gw tidak memiliki kedekatan personal dengan gay community. Gw juga, seperti posting sebelumnya, bukan orang yang mengagungkan pernikahan. Lalu kenapa gw sesegukan gini?

Kemarin kejadian hal yang sama. Gw buka link dari salah seorang artis Hollywood yang gw follow di Twitter. Link tentang speech Ellen Page. Gw gak tau ini speech tentang apa, but im a speech whore so i clicked it. Ternyata link tersebut mengantar gw ke sebuah monolog delapan menit tentang kemanusiaan, dengan selipan sebuah pengakuan bahwa sang pembicara, Ellen Page, adalah seorang gay. Gw nangis sejadi jadinya, dan sekali lagi, tanpa mengetahui alasannya. WTF is wrong with me?

Bangun tidur hari ini, gw mikir, dan gw rasa gw menemukan jawabannya. Air mata tidak berbohong, dan alasan kenapa gw nangis adalah

because it feels right

Karena apa yang gw lihat saat beberapa pasangan tersebut menikah terasa benar. Karena speech tersebut terasa benar. Karena kita terlalu lama hidup di dalam kebencian atas hal hal yang tidak kita mengerti. Ketidaktahuan membuat kita marah dan frustasi. Ketidaktahuan membuat kita mengutuk dan mencaci. Ketidaktahuan membuat kita merasa bodoh, dan percayalah, bahkan orang bodoh pun tidak suka merasa bodoh.

Mungkin sampai kapanpun gw tidak akan pernah bisa mengerti perasaan yang mereka rasakan satu sama lain. Tapi memang bukan kewajiban gw untuk mengerti. Hanya perlu memahami bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, dan masing masing manusia memiliki skenario yang berbeda.

Gw nonton siaran ulang Grammy. Lihat performance nya Macklemore & Ryan Lewis lagi. Dan saat adegan pernikahan, tayangannya berubah. Kamera hanya menunjukkan pasangan pasangan normal. Tidak ada mereka satupun. Di sebuah lagu di mana mereka menjadi pusatnya, mereka disensor

Thats when i realized that i live in such a fucked up world.

Seorang sahabat yang cukup mendalami agama bilang :

"Gw suka nonton Grammy, sampai pas bagian Macklemore. Agama gak ngajarin seperti itu. Mendukung berarti dosa. Gw milih gak lanjutin nonton"

Kalau memang mendukung hak mereka adalah dosa, maka gw tidak pernah merasa sebahagia ini berdosa

ps: here’s the link to the awesome Ellen Page speech 

http://www.youtube.com/watch?v=1hlCEIUATzg